Sejarah Sanggar Parikesit
Sejarah Sanggar Parikesit
Berdiri secara resmi pada 16 Maret 2016, Sanggar Seni Budaya Parikesit Giritirto merupakan wujud nyata dari semangat pelestarian budaya yang tak pernah putus di Desa Giritirto. Akar sejarahnya bermula dari ketulusan para sesepuh desa—seperti Alm. Mbah Sunarto, Bapak Darmaji, Bapak Bera, dan Bapak Parto Dimejo—yang setia merawat kesenian Gending dan Karawitan sebagai identitas desa.
Semangat para sesepuh ini kemudian disambut oleh generasi muda, di antaranya Slamet Sugiyono, Anter Karyono, Joko Susongo, Yoyo Suroyo, dan Mulyono. Mereka menginisiasi kelompok belajar karawitan yang berkolaborasi dengan SMP Pangeran Diponegoro. Di tengah antusiasme siswa sekolah tersebut, muncul seorang putra asli Desa Giritirto, Farizal Septin Efendi, yang dengan tekun ikut belajar dan berbaur.
Momentum awal berdirinya sanggar ini ditandai dengan dukungan penuh dari Bapak Teguh Prasetyo (Kepala Desa saat itu). Melihat geliat antusiasme yang tinggi namun terbatasnya fasilitas, beliau mengambil langkah besar dengan memboyong perangkat alat Gamelan dari desa lain agar dapat dimanfaatkan sepenuhnya oleh warga Desa Giritirto untuk berlatih.
Dalam perjalanannya, kegiatan sanggar sempat mengalami pasang surut. Namun, nyala semangat Farizal tidak pernah padam berkat peran Bapak Slamet Sugiyono dan Bapak Waris Trihardjito yang terus "ngemong" dan merangkulnya. Beliau berdua secara konsisten mengajak Farizal terjun langsung dalam berbagai ajang pagelaran kesenian. Pendampingan personal inilah yang menjadi kunci utama mengapa kecintaan terhadap budaya di Giritirto tetap terjaga.
Kebangkitan sanggar semakin terarah melalui forum diskusi pemuda bernama SUBILENG (Sinau Ngobati Telenging Ati). Filosofi ini menjadi ruh pergerakan yang memperkokoh pondasi Sanggar Parikesit hingga berhasil melahirkan kelompok Seni Jamjaneng Sangkan Paran. Kerja keras ini akhirnya membawa Sanggar Parikesit ke berbagai panggung nasional, mulai dari Lomba Budaya di Borobudur, mewakili Kabupaten Kebumen di Pasar Raya Jawa Tengah (Solo), pementasan Ketoprak di Ragunan, hingga tampil di Anjungan Jawa Tengah TMII Jakarta dengan lakon "Lengger Nyi Sumirah".
Kini, Sanggar Parikesit Giritirto telah berkembang pesat dengan mengelola tiga kelas belajar aktif yang diikuti siswa SMP Pangeran Diponegoro serta siswa dari SD Negeri 1 dan SD Negeri 2 Giritirto.
Melihat capaian besar ini, Farizal Septin Efendi pernah mengungkapkan sebuah kalimat yang penuh haru: "Andai saja Bapak Alm. Mbah Sunarto dan Alm. Mbah Sutrisno masih hidup, pasti beliau-beliau akan merasa sangat bangga melihat Sanggar Parikesit yang sekarang." Kalimat ini menjadi pengingat bagi seluruh anggota bahwa apa yang dinikmati hari ini adalah buah dari doa dan rintisan para leluhur yang akan terus dijaga apinya oleh generasi mendatang.